
Seminar bertajuk Transformasi Logistik Indonesia: Peran Truk Listrik di Masa Depan Transportasi yang digelar di ajang GIICOMVEC 2026

JD.id, jakarta –– Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Gemilang Tarigan menekankan pentingnya transformasi menuju truk listrik sebagai solusi masa depan transportasi industri di tanah air. Dalam seminar bertajuk Transformasi Logistik Indonesia: Peran Truk Listrik di Masa Depan Transportasi yang diadakan pada ajang GIICOMVEC 2026.
Gemilang mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi armada nasional yang didominasi unit uzur. “Kalau saya lihat yang 65 persen di atas 20 tahun, ada juga yang berusia 4 tahun ke bawah, inilah keadaannya pernasional kita. Kemudian di antaranya ada 20 persen antara 5 sampai 10 tahun,” jelasnya.
Ia menilai penggunaan truk listrik adalah kunci untuk melakukan peremajaan total pada jutaan unit truk di seluruh Indonesia yang selama ini masih sangat bergantung pada BBM. “Mungkin hari ini kita membahas truk listrik sebagai opportunity untuk melakukan peremajaan truk di Indonesia. Bagaimana truk kita ini dapat diremajakan karena sebanyak 9,4 juta truk ini tadi mengonsumsi BBM,” ujar Gemilang.
Ia juga menyoroti efisiensi energi yang sangat kontras karena konsumsi energi truk bisa mencapai 2,5 kali lipat lebih besar daripada kendaraan pribadi.
Menanggapi hal tersebut, pemerintah melalui Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, dalam sambutan yang dibacakan oleh Direktur Pembinaan Ketenagalistrikan ESDM Ahmad Amirudin, menegaskan komitmen negara dalam mendukung transisi energi secara masif hingga tahun 2035.
Pemerintah memandang bahwa pengembangan energi baru terbarukan adalah masa depan yang harus segera dijemput melalui pembangunan pembangkit surya, bayu, panas bumi, hingga bioenergi. Dalam upaya menekan ketergantungan pada impor bahan bakar fosil, pemerintah menjalankan strategi mulai dari peningkatan penggunaan biofuel seperti B50 hingga konversi menuju kendaraan listrik. Hingga Februari 2026, telah dibangun 4.892 unit SPKLU di berbagai lokasi untuk mendukung ekosistem ini, di mana kolaborasi antara industri dan penyedia energi sangat dibutuhkan guna membangun rantai pasok baterai serta infrastruktur pengisian yang mumpuni.
Melengkapi sudut pandang tersebut, Lektor Kepala ITB Dr. Yannes Martinus Pasaribu, M.Sn., menyoroti pentingnya desain ulang ekosistem kendaraan listrik yang mencakup aspek manusia dan regulasi. “Tantangan utama sebenarnya kalau kita lihat, ini yang sering terjadi di jalan tol apalagi di turunan. Terjadi di beberapa jalan tol malah sudah mulai masuk kategori hunter, karena diturunkan sama, dia bermain dengan load yang terlalu besar. Kemudian karena yang mengatur BBM ternyata driver-man, dinetralkan, engine brake gak berlaku,” papar Yannes.
Ia menekankan bahwa transisi ini adalah transformasi sosio-teknikal yang sulit karena menyangkut perubahan perilaku manusia. “Paling susah merubah manusianya, susah banget. Pertama, driver. Karena secara teknologi dia sophisticated, tidak boleh diperlakukan sekasar model-model yang truk konvensional,” tambahnya.
Yannes juga memperingatkan adanya risiko hukum akibat regulasi berat kendaraan yang belum menyesuaikan keberadaan baterai besar. “Aturannya membuat truk listrik langsung masuk kategori odong-odong. Bukan long range, itu akan bisa sampai 12 ton baterai yang dibawa. Begitu kita menganggap, bisa dibilang melanggar hukum,” tegasnya.
Namun, ia melihat adanya peluang besar dari penurunan harga baterai dan model bisnis baru. “Dalam waktu di bawah 5 tahun ini, akan terjadi revolusi besar. Harga kendaraan listrik ini akan tipis dengan kendaraan-kendaraan yang belum terjual. Ada bisnis penyewaan baterai, kita tidak perlu beli baterai, baterai kita sewa saja,” jelas Yannes.
Seminar ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh kunci dan pejabat industri strategis, di antaranya, Bambang Patijaya, Ketua Komisi XII DPR RI, Albert Auliya Ilyas Dirut PT Kalista Nusa Armada, Gilarsi Wahju Stijono Dirut PT VKTR Teknologi Mobilitas. tbk, Simon Aloysius Mantiri Dirut Pertamina, Drajat Sulityo Dirut Pelindo dan Darmawan Prasodjo Dirut PLN.
