Peduli Sopir Terjebak Macet, Asosiasi Bagikan Nasi Bungkus dan Desak Tambahan Dermaga di Ketapang

Slamet Barokah membagikan nasi bungkus kepada sopir yang terjebak kemacetan di kantung parkir Bulusan. (Foto: Muh Hujaini/Ngopibareng.id)

Pengurus Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (ASLI) melakukan aksi bagi-bagi nasi bungkus dan minuman kepada para sopir yang terjebak kemacetan di sekitar Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Selasa, 23 Juni 2026. Aksi ini wujud solidaritas pada sesama sopir yang terjebak macet. Pengurus ASLI mendesak pemerintah segera menambah dermaga di lintasan Ketapang-Gilimanuk agar tidak lagi terjadi kemacetan.

Ada ratusan nasi bungkus yang dibagikan kepada para sopir yang terjebak kemacetan. Kegiatan ini difokuskan di sekitar kantung parkir Bulusan. Pengurus ASLI berkeliling mendatangi masing-masing truk sedang parkir.

Pembina ASLI, Slamet Barokah, mengatakan, ASLI sangat prihatin dengan kondisi kemacetan yang tak kunjung menemukan solusi. Kondisi ini menurutnya sudah berlangsung lebih dari setahun.

“Lancar sedikit macet lagi, lancar sedikit, macet lagi. Harapan kami negara juga harusnya hadir dalam permasalahan ini,” tegasnya.

Dia menegaskan, Negara seharusnya memperhatikan sarana dan prasarana penyeberangan di pelabuhan Ketapang

Gilimanuk dengan kolaborasi antar instansi. Diapun meminta ada perhatian Presiden untuk mengatasi persoalan kemacetan di lintasan yang menghubungkan Jawa dengan Bali ini.

“Karena volume kendaraan itu semakin hari, bulan, dan tahun itu semakin meningkat, tentunya penambahan dermaga sangat diperlukan di Ketapang sama Gilimanuk,” tegasnya.

Saat ini, menurutnya, di sisi pelabuan Ketapang terdapat 9 dermaga, sedangkan di Gilimanuk hanya 7 dermaga. Sehingga setidaknya ada penambahan dua dermaga di Gilimanuk untuk mengimbangi jumlah dermaga di sisi Ketapang.

“Jadi tidak imbang untuk sarananya,” katanya.

Kemacetan ini, menurut Slamet, sangat merugikan para sopir. Karena menunggu antrean, biaya operasional sopir membengkak. Sopir harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli BBM, makan dan lain-lain. Karena kemacetan bisa berjam-jam bahkan bisa lebih dari sehari.

Saat belum ada kemacetan, menurutnya, mulai masuk ke Pelabuhan Ketapang hingga turun di Pelabuhan Gilimanuk hanya butuh waktu antara 1 sampai 2 jam saja.

“Sekarang ini bisa sehari, bisa satu hari satu malam untuk penyeberangan saja,” tegasnya.

Dijelaskannya, dengan penundaan sehari saja, rata-rata uang tambahan untuk makan yang harus dikeluarkan sopir antara Rp100 ribu sampai Rp200 ribu per hari. Itu belum ditambah biaya tambahan untuk membeli BBM.

“Kalau dengan BBM-nya mungkin untuk antre nambahnya 10 liter lah, itu untuk diantrian saja. Itu biaya harian yang harus dikeluarkan sopir perharinya,” terangnya.

Dia menyebut, yang tidak kalah besar adalah kerugiannya adalah keterlambatan pendistribusian barang. Barang yang seharusnya sudah bisa dimanfaatkan akhirnya tertunda karena kemacetan. Artinya, kemacetan ini juga merugikan masyarakat secara umum.

“Jadi semua ini dirasakan bukan hanya transporter, rakyat juga merasakan. Masyarakat di wilayah sini kegiatannya juga terganggu dengan adanya kemacetan-kemacetan ini,” ujarnya.