
General Manager ASDP Cabang Ketapang, Arief Eko (KOMPAS.COM/Fitri Anggiawati)
BANYUWANGI, KOMPAS.com – Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwaghandi sebelumnya mengatakan bahwa pemerintah akan menyiapkan pemisahan jalur di penyeberangan Ketapang-Gilimanuk.
Pemisahan jalur khusus logistik di lintasan penghubung Pulau Jawa dan Bali tersebut diharapkan dapat menjadi solusi jangka menengah mengatasi kemacetan berulang. Dikonfirmasi terkait wacana tersebut, pemangku kepentingan di Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk justru mengaku belum mendapat arahan khusus terkait rencana itu.
General Manager (GM) ASDP Ketapang, Arief Eko, mengatakan bahwa dia belum menerima informasi tentang rencana tersebut, termasuk soal teknis dan pelaksanaannya.
“Saya belum bisa menjelaskan karena memang belum ada turunan kebijakannya,” kata Arief, Rabu (1/7/2026).
Menurut dia, penyebrangan lintas Ketapang-Gilimanuk bisa dibilang terpisah antara penumpang kendaraan pribadi dan logistik. Meskipun, pemisahan tersebut belum sepenuhnya.
“Secara enggak langsung sekarang yang terjadi di Ketapang itu sudah ada pemisahan dermaga logistik sama dermaga penumpang. LCM itu kan untuk kendaraan logistik, meskipun kendaraan biasa juga bisa. Selain LCM, kan untuk kendaraan ringan di bawah 30 ton,” ungkapnya.
Arief menyebut, peningkatan truk besar di lintas Ketapang-Gilimanuk pada awal libur panjang lalu turut didorong oleh tidak maksimalnya penyebrangan Tanjungwangi-Gilimas, dari yang sebelumnya dilayani empat kapal, kini hanya dua kapal yang beroperasi.
Akibatnya, banyak truk besar tujuan Nusa Tenggara yang menyebrang lewat Ketapang-Gilimanuk.
Hal senada juga diungkapkan Kepala KSOP Tanjungwangi, Purgana. Dia mengatakan bahwa pihaknya belum mengetahui detail terkait rencana menyiapan jalur khusus logistik tersebut.
Dia menduga, rencana tersebut menjadi kewenangan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (DJPD). “Tugas pokok fungsi KSOP di Ketapang hanya SPB (surat persetujuan berlayar),” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Dudy mengatakan, pemerintah menyiapkan peningkatan kapasitas di Pelabuhan Celukan Bawang sebagai lokasi khusus angkutan logistik.
Skema tersebut akan diterapkan dengan memisahkan layanan kendaraan barang dan kendaraan penumpang, serupa dengan pola yang diterapkan di lintasan Merak-Bakauheni.
“Di Gilimanuk ada Celukan Bawang yang kapasitasnya akan ditingkatkan. Rencananya angkutan logistik akan difokuskan di sana. Polanya kurang lebih sama seperti di Merak-Bakauheni, jadi nanti ada pemisahan antara angkutan penumpang dan angkutan barang agar tidak terkonsentrasi di satu pelabuhan saja,” kata Dudy.
Menurut dia, pemerintah menargetkan skema pemisahan tersebut sudah dapat dioperasikan paling lambat menjelang periode angkutan Lebaran.
“Kita harapkan paling lambat saat Lebaran sudah siap. Karena kalau saat Natal dan Tahun Baru trafiknya tidak terlalu tinggi, tetapi saat Lebaran kita berharap pengaturannya sudah bisa berjalan,” pungkasnya.
