
Seorang sopir mengecek muatan ikan kerapu setelah terjebak antrean kendaraan di Pelabuhan Ketapang, Banyuangi, Minggu (27/9/2026). (Foto: I Putu Adi Budiastrawan/detikBali)
Jembrana – Antrean hingga 6 jam di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali membuat sopir angkutan logistik kelimpungan. Bahan pangan segar seperti sayuran terancam busuk, ikan mati karena kehabisan oksigen, hingga sejumlah sopir memilih putar balik untuk menghindari kerugian lebih besar.
Salah seorang sopir pikap, Siluhartono (42), menjadi salah satu yang terdampak antrean panjang tersebut. Ia mengangkut ikan kerapu hidup dari Probolinggo menuju Bali. Namun, ikan yang dibawanya terancam mati setelah stok oksigen habis selama terjebak antrean di Ketapang.
“Biasanya saya kalau kirim ikan kerapu hidup ke Bali dariProbolinggo itu hanya menghabiskan paling cuman empat tabung oksigen. Nah tadi antre di Ketapang sudah empat tabung habis, tinggal sisa dua tabung saja,” ungkapSiluhartono saat ditemuidetikBali, Minggu (27/9/2026).
Siluhartono mengatakan kondisi serupa pernah dialaminya beberapa hari lalu. Saat itu, beberapa ikan kerapu yang dibawanya mati hingga menyebabkan kerugian cukup besar.
“Kalau rugi sudah pasti ya, Mas. Ini saya sudah tanda-tanda (mati) ikannya,” tuturnya.
Tak hanya pengangkut ikan, sopir angkutan logistik sayuran dan bahan pokok lainnya juga terdampak. Sejumlah sopir dengan tujuan Denpasar bahkan memilih memutar balik kendaraannya karena khawatir barang bawaan rusak.
“Ada teman juga bawa sayur dan ikan juga putar balik, daripada rugi besar. Saya karena sudah terlanjur masuk antrean di Pelabuhan Ketapang, jadi lanjut perjalanan,” imbuh Siluhartono.
ASDP Urai Antrean dengan 25 Kapal
General Manager ASDP Cabang Ketapang Media Syahrianto mengatakan pihaknya telah mengambil langkah optimalisasi distribusi kendaraan berdasarkan kapasitas dan karakteristik kapal yang beroperasi.
Kendaraan dengan muatan di atas 30 ton diarahkan untuk dilayani melalui kapal-kapal LCM. Sementara kendaraan dengan muatan di bawah 30 ton diarahkan menuju Dermaga MB 1, 2, 3, dan 4.
Untuk mempercepat penguraian antrean, ASDP mengoperasikan sebanyak 25 kapal di lintasan Ketapang-Gilimanuk. Pengaturan jumlah trip juga terus dimaksimalkan dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan pelayaran.
“Kami memahami bahwa kondisi kepadatan ini berdampak langsung kepada pengguna jasa, khususnya angkutan logistik. Karena itu, percepatan pemulihan menjadi prioritas kami,” ujar Media dalam keterangan tertulisnya.
Langkah penguraian antrean terus dikuatkan melalui optimalisasi armada, fasilitas pelabuhan, hingga koordinasi lintas pemangku kepentingan demi menjaga kelancaran jalur distribusi logistik Jawa-Bali.
“Kami mengimbau pengguna jasa tetap mengikuti arahan petugas agar proses pemulihan dapat berlangsung dengan tertib dan optimal,” tandas Media.
