Antrean Pelabuhan Ketapang Tembus 17 Km, Sopir Ekspedisi Merugi

Antrean kendaraan truk angkutan logistik menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, mencapai 17 kilometer pada Senin 28 September 2026. (Beritasatu.com/Sopian Hadi)

Ketapang, Beritasatu.com – Antrean kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, mencapai 17 kilometer pada Senin (28/9/2026). Kondisi tersebut membuat para sopir ekspedisi yang hendak mengirim logistik ke Bali mengalami kerugian waktu, biaya, dan tenaga.

Antrean panjang terjadi sejak Sabtu (26/9/2026), yang dipicu perbaikan Dermaga 2 di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, serta meningkatnya volume kendaraan pengangkut logistik menuju Pulau Dewata.

Panjangnya antrean membuat sopir harus menghabiskan waktu berjam-jam sebelum dapat memasuki area pelabuhan dan menuju dermaga landing craft machine (LCM). Salah seorang sopir ekspedisi, Dovan, mengaku sudah mengantre sejak Minggu (27/9/2026), dengan membawa muatan sabun untuk dikirim ke Bali.

“Saya berada dalam antrean dari Minggu (27/9/2026), sampai sekarang baru bisa masuk area pelabuhan. Jelas bagi seorang sopir ini merugi karena rugi waktu, keuangan dan tenaga,” ujarnya.

Dovan juga menilai upaya yang dilakukan untuk mengurai antrean belum memberikan dampak signifikan terhadap kondisi di lapangan.

“Keputusan yang dibuat oleh pihak ASDP sama sekali enggak berpengaruh dengan kemacetan ini, imbasnya ke kita-kita ini pak,” katanya.

Pihak ASDP Pelabuhan Ketapang menyatakan telah berupaya mengurai kepadatan kendaraan. Petugas juga mendapat bantuan dari TNI dan kepolisian untuk memperlancar arus kendaraan, khususnya angkutan logistik menuju Bali.

ASDP juga memberlakukan sistem bongkar muat dan pemberangkatan berdasarkan ketersediaan kapal. Dengan sistem tersebut, keberangkatan kapal tidak lagi sepenuhnya menggunakan jadwal reguler.

Meski berbagai langkah telah dilakukan, antrean kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang hingga Senin (28/9/2026) masih terjadi dan mencapai sekitar 17 kilometer. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas para sopir ekspedisi yang harus menghabiskan lebih banyak waktu dalam perjalanan untuk mengirimkan barang ke Bali.