Truk Listrik 3 Kali Lebih Mahal, Pengusaha Logistik Jateng Keluhkan Kendala

ESPOS.ID – Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jateng-DIY, Bambang Widjanarko (kiri), seusai APTRINDO Truck EXPO 2026 di Lapangan Parkir Hotel Patra Semarang, Rabu (14/10/2026) malam. (Solopos/Adhik Kurniawan).

  • Hambatan truk listrik logistik Jateng: SPKLU minim, jarak angkut panjang butuh charging berulang, bobot baterai makan kapasitas muat.
  • Harga truk listrik ~3x truk diesel (Rp700 juta–Rp1,6 miliar), pajak belum ada insentif; Aptrindo minta subsidi seperti motor listrik Rp7.000.000.
  • Minat pembeli kecil: 2 dari 100 buyer tertarik; Lancarjaya masih kembangkan unit listrik, MC Group tawarkan hybrid ~Rp2 miliar.

Esposin, SEMARANG — Sejumlah kendala masih dihadapi pengusaha angkutan logistik di Jawa Tengah (Jateng) untuk beralih ke moda transportasi ramah lingkungan atau kendaraan listrik. Selain persoalan ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), harga satu unit truk listrik juga bisa mencapai tiga kali lipat dibandingkan truk berbahan bakar diesel.

Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jateng-DIY, Bambang Widjanarko, mengatakan penggunaan truk listrik untuk angkutan logistik di jalan raya masih sulit direalisasikan. Sebab, perjalanan angkutan logistik bisa berlangsung selama berhari-hari dalam sekali jalan.

“Kendaraan listrik untuk angkutan jalan raya masih sulit saya kira. Karena faktor jarak panjang, berulang kali perlu charging, nanti di mana? Kan sulit untuk saat ini,” kata Bambang seusai APTRINDO Truck EXPO 2026 di Lapangan Parkir Hotel Patra Semarang, Rabu (14/10/2026) malam.

Pertimbangan lainnya bagi para pengusaha adalah bobot baterai truk listrik. Dengan bobot baterai yang berat, kapasitas angkut armada perlu diperhitungkan agar kendaraan tetap dapat membawa muatan logistik secara maksimal.

“Baterainya itu berat, kalau daya muatnya truk tidak dinaikkan, habis untuk muat baterainya doang,” ucapnya.

Langkah Konkret Kendaraan Listrik Sektor Angkutan Logistik

Hal senada disampaikan Ketua Umum Aptrindo, Gemilang Tarigan. Menurutnya, pemerintah belum mengambil langkah konkret untuk mendukung penggunaan kendaraan listrik di sektor angkutan logistik.

“Pemerintah belum ngapa-ngapain untuk kendaraan listrik truk. Padahal kalau terus-terusan disel, pemerintah harus subsidi terus. Kalau disuruh beli truk listrik, harganya tiga kali lipat, belum pajak dan segala macamnya,” kata Gemilang.

Gemilang berharap pemerintah memberikan subsidi untuk pembelian truk listrik sehingga harganya lebih terjangkau bagi pengusaha.

“Seperti sepeda motor listrik itu kan ada insentif Rp7.000.000 untuk pembelian. Kalau pengusaha truk? Sepertinya pemerintah masih tutup mata,” nilainya.

General Manager Sales Lancarjaya Nusantara Enjiniring, Denny Liyadi, membenarkan harga truk listrik lebih mahal dibandingkan truk diesel. Pihaknya saat ini masih mengembangkan kendaraan ramah lingkungan tersebut.

“Kita masih development untuk listrik. [Segi harga?] Ya kalau truk biasa mulai Rp700.000.000 sampai Rp1,6 miliar,” kata Denny.

Meski harganya bisa lebih mahal dibandingkan truk konvensional, Denny menyebut minat terhadap truk listrik tetap ada, meskipun jumlahnya masih tergolong kecil. “Secara gambaran dari 100 buyer, 2% tertarik beli listrik,” bebernya.

Sementara itu, Marketing MC Group Semarang, Arifin, mengatakan perusahaannya menyediakan truk tipe hibrida (hybrid). Harga satu unit truk tersebut mencapai sekitar Rp2 miliar. “Kalau truk biasa harga up mulai Rp700.000.000,” kata Arifin.