BRIN Kembangkan Simulator Truk untuk Riset Keselamatan Transportasi

Tangerang Selatan – Humas BRIN. Berdasarkan data Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri pada periode 2017–2021, kendaraan truk menjadi penyumbang kecelakaan lalu lintas terbesar kedua di Indonesia. Kondisi ini mendorong periset Kelompok Riset Keselamatan Transportasi, Pusat Riset Teknologi Transportasi (PRTT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan laboratorium Safety and Truck Driving Simulator untuk mendukung riset keselamatan transportasi.

Pengembangan laboratorium tersebut mendapat respons positif dari Perhimpunan Ergonomi Indonesia (PEI), organisasi profesi yang menghimpun akademisi, peneliti, dan praktisi ergonomi. Sebagai tindak lanjut, perwakilan PEI mengunjungi Kawasan Sains dan Teknologi BJ Habibie pada Senin (11/5) untuk menjajaki peluang kolaborasi riset sekaligus meninjau langsung fasilitas simulator milik BRIN.

Peneliti Ahli Madya PRTT BRIN, Ludfi Pratiwi Bowo, menjelaskan simulator yang dikembangkan BRIN masih berada pada kategori low fidelity sehingga memerlukan pengembangan lebih lanjut melalui kolaborasi dengan berbagai institusi.

“Simulator yang ada di BRIN saat ini masih berbentuk statis dan belum dilengkapi sistem hidrolik untuk menghasilkan bumping motion,” papar Ludfi.

Meski demikian, ia menegaskan simulator tersebut telah mengintegrasikan komponen asli truk sebagai antarmuka kontrol guna menjaga validitas ergonomi dan menghasilkan tactile feedback yang presisi. Sistem visualisasi juga dirancang dengan tipologi infrastruktur lokal Indonesia menggunakan konfigurasi triple projector multiplanar sehingga menghadirkan pengalaman berkendara yang lebih imersif.

Menurut Ludfi, simulator memanfaatkan aplikasi Euro Truck Simulator 2 (ETS2) dengan fokus trayek Indonesia. Jalur yang direplikasi membentang dari Bengkulu hingga Blora, terutama koridor Trans Jawa yang menjadi rute utama logistik nasional.

“Rute seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Tegal hingga Wonosobo dapat disimulasikan sehingga eksperimen performa pengemudi lebih mendekati kondisi nyata di Indonesia,” jelasnya.

Simulator tersebut juga memungkinkan manipulasi kepadatan lalu lintas, mulai dari kondisi arus lancar hingga kemacetan ekstrem. Selain itu, pengaturan waktu dapat dilakukan dalam format 24 jam untuk menguji performa pengemudi pada kondisi pagi, siang, sore, maupun malam hari. Efek cuaca seperti hujan juga dapat ditampilkan secara real-time.

Ludfi mengungkapkan simulator high fidelity saat ini masih terbatas dimiliki perguruan tinggi luar negeri, salah satunya Tongji University di China. Namun simulator tersebut baru digunakan untuk kendaraan penumpang sehingga pihak kampus tertarik bekerja sama dengan BRIN dalam pengembangan simulator kendaraan truk.

Saat ini BRIN bekerja sama dengan BINUS University dan Tongji University untuk melakukan riset pengukuran kelelahan pengemudi truk. Penelitian dilakukan menggunakan simulator BRIN dengan melibatkan 30–40 pengemudi truk berpengalaman di jalur logistik Pulau Jawa yang berasal dari komunitas pengemudi dan organisasi keselamatan transportasi.

“Sebelum mengikuti eksperimen, pengemudi wajib mengisi kuesioner untuk memastikan kesesuaian dengan kriteria penelitian,” kata Ludfi.

Kepala PRTT BRIN, Aam Muharam, berharap kolaborasi yang telah terjalin dapat terus diperluas, khususnya dalam pengembangan riset keselamatan transportasi dan ergonomi.

“Riset keselamatan merupakan ujung tombak dari seluruh riset transportasi. Kami berharap fasilitas laboratorium BRIN dapat dimanfaatkan bersama dalam semangat kolaborasi,” ujarnya.

Sementara itu, dosen BINUS University sekaligus anggota Technical Committee Transport Ergonomics PEI, Rida Zuraida, mengatakan penelitian tersebut didanai hibah penelitian internasional BINUS dan telah memasuki tahap persiapan sejak Februari 2026. Simulasi direncanakan mulai berlangsung pada Juni 2026 dengan proses pengambilan data selama satu hingga dua bulan.

“Biasanya partisipan penelitian di kampus adalah mahasiswa, tetapi kali ini kami ingin menggunakan pengemudi truk sungguhan dengan kondisi yang benar-benar menyerupai situasi di jalan,” ujarnya.

Rida menjelaskan penelitian yang dilakukan berfokus pada penentuan curve model kelelahan pengemudi untuk mengetahui titik awal munculnya kelelahan saat berkendara. Penelitian memanfaatkan pengukuran heart rate, EEG emotif, serta sejumlah kuesioner guna memvalidasi durasi ideal istirahat bagi pengemudi truk.

Penelitian tersebut juga mengkaji relevansi penerapan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang mewajibkan pengemudi beristirahat setelah mengemudi selama empat jam berturut-turut.

“Targetnya, ketika kelelahan ringan mulai terdeteksi, tindakan pencegahan bisa dilakukan lebih cepat sebelum muncul tanda-tanda fisik yang membahayakan pengemudi,” jelas Rida.

Ketua Technical Committee Transport Ergonomics PEI dari Universitas Indonesia, Maya Arlini Puspasari, mengapresiasi keberadaan laboratorium simulator truk BRIN dan berharap kolaborasi riset keselamatan transportasi dapat terus dikembangkan.

“Kampus memiliki sumber daya, termasuk mahasiswa dan fasilitas pendukung riset, sehingga kolaborasi antara BRIN dan perguruan tinggi dapat saling melengkapi,” pungkasnya. (msb,hrd/Ed:trs)