Efisiensi Logistik Pelindo di Balik Lonjakan Laba Rp 1,48 Triliun

Pertumbuhan “throughput” peti kemas menunjukkan bahwa kinerja Pelindo ditopang oleh peningkatan aktivitas ekonomi riil di pelabuhan.

ingga April 2026, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo membukukan laba Rp 1,48 triliun, tumbuh 169 persen dibandingkan dengan Rp 550 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi operasional, arus (throughput) peti kemas Pelindo hingga April 2026 mencapai sekitar 6,4 juta TEUs, atau tumbuh 7 persen secara tahunan.

​”Berbagai skenario risiko disiapkan melalui mitigasi dan stress test agar perusahaan tetap adaptif menghadapi ketidakpastian. Dengan fondasi tersebut, Pelindo optimistis dapat menjaga pertumbuhan laba secara sehat dan mencerminkan kinerja operasional yang berkelanjutan,” ujar Direktur Utama Pelindo Achmad Muchtasyar, Kamis (2/7/2026).

Peningkatan laba membuktikan bahwa kinerja Pelindo ditopang oleh tumbuhnya aktivitas ekonomi riil di pelabuhan. Pertumbuhan itu didorong peningkatan arus peti kemas internasional sebesar 11 persen dan domestik 4 persen. Selain itu, arus kapal juga tumbuh 1 persen dan arus penumpang meningkat 7 persen secara tahunan.

Kinerja operasional yang positif berdampak pada pendapatan Pelindo yang tumbuh 11 persen secara tahunan. Di sisi lain, perusahaan berhasil menjaga pertumbuhan beban usaha di level 6 persen, lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pendapatan.

Kombinasi antara peningkatan pendapatan dan pengendalian biaya inilah yang menjadi faktor utama pertumbuhan laba. ”Kenaikan laba Pelindo didorong oleh dua faktor kunci, yaitu pertumbuhan pendapatan yang sejalan dengan peningkatan kinerja operasional serta pengendalian beban usaha yang lebih disiplin,” kata Achmad.

Kesibukan aktivitas bongkar muat kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin, 14 Januari 2019. Pelabuhan Tanjung Priok yang dikelola oleh Pelindo II ini setidaknya melayani 300.000 peti kemas per bulan.

Demi menjaga keberlanjutan peningkatan laba konsolidasi, Pelindo menerapkan tiga pendekatan utama, yakni penguatan tata kelola keuangan, disiplin pengelolaan biaya, dan manajemen risiko yang proaktif. Dari sisi tata kelola keuangan, Pelindo terus memperkuat standardisasi kebijakan akuntansi di seluruh Grup Pelindo, mempercepat proses konsolidasi laporan keuangan, serta memperkuat pengendalian internal atas pelaporan keuangan.

Dari sisi biaya, Pelindo menjalankan program optimalisasi biaya, aset, dan modal kerja, serta memanfaatkan sistem digital. Langkah ini dilakukan untuk menghasilkan data keuangan yang lebih akurat, tepat waktu, dan andal sebagai dasar pengambilan keputusan.

Pelindo berupaya meningkatkan efisiensi pelabuhan guna menekan biaya logistik dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Achmad menambahkan, biaya logistik nasional dipengaruhi banyak komponen di sepanjang rantai pasok sehingga penurunannya bukan hanya bergantung pada pelabuhan. Namun, pelabuhan berperan sebagai simpul utama pergerakan barang, terutama dalam mengendalikan waktu singgah kapal (port stay) dan waktu barang di pelabuhan (cargo stay).

Menurut Achmad, Pelindo terus meningkatkan efisiensi pelabuhan melalui standardisasi layanan, digitalisasi proses kepelabuhanan, dan peningkatan produktivitas bongkar muat. Selain itu, optimalisasi perencanaan dan pengendalian operasi, serta modernisasi peralatan dan infrastruktur pelabuhan. Langkah-langkah ini bertujuan untuk mempercepat arus barang, meningkatkan keandalan layanan, serta menekan waktu tunggu di pelabuhan.

Terminal peti kemas di Pelabuhan Batu Ampar, Kota Batam, Kepulauan Riau, Rabu (27/5/2026). Jaringan pelayaran langsung terminal peti kemas Pelabuhan Batu Ampar saat ini telah menjangkau sedikitnya tujuh negara di Asia. Konektivitas itu meningkatkan kelancaran rantai pasok dan memperkuat posisi Batam sebagai pusat logistik, perdagangan, dan industri. Jumlah direct call atau pelayaran langsung internasional pada Januari-Mei 2026 melalui terminal peti kemas Pelabuhan Batu Ampar mencapai 106 pelayaran, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama 2025 yang mencatatkan 34 pelayaran langsung.

Jaringan pelabuhan

Pelindo juga mengembangkan jaringan pelabuhan berbasis hub and spoke serta memperkuat integrasi pelabuhan dengan kawasan industri, pusat logistik, dan moda transportasi lain. Melalui integrasi tersebut, pelabuhan tidak hanya berfungsi sebagai tempat bongkar muat, tetapi juga simpul utama dalam ekosistem logistik nasional.

Transformasi di bawah arahan strategis Danantara turut memperkuat fokus Pelindo, terutama dalam menciptakan nilai jangka panjang melalui pengelolaan portofolio yang lebih terarah, efisiensi organisasi, dan penguatan bisnis inti. Dari sisi tata kelola, pengelolaan portofolio BUMN menjadi lebih terintegrasi. Pelindo didorong semakin fokus pada bisnis inti, mempercepat transformasi, serta memastikan setiap inisiatif strategis memberikan nilai tambah yang optimal bagi perusahaan dan negara.

Dari sisi pengambilan keputusan, koordinasi untuk kebijakan strategis seperti investasi dan aksi korporasi menjadi lebih terarah. Keputusan tidak lagi hanya dilihat dari kepentingan masing-masing perusahaan, tetapi juga dari potensi sinergi antar-BUMN dan dampaknya terhadap penguatan ekosistem secara keseluruhan.

Dari sisi strategi bisnis, Pelindo mempercepat penyederhanaan struktur korporasi (corporate streamlining) agar organisasi menjadi lebih fokus dan tangkas (agile) dalam merespons dinamika industri. Dampaknya, organisasi menjadi lebih ramping, tata kelola lebih sederhana, dan transaksi antarperusahaan dalam grup dapat dikurangi.

Guru Besar Logistik Maritim Departemen Teknik Sistem Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Saut Gurning menegaskan, pertumbuhan throughput di tengah ketidakpastian global merupakan indikator kuat bahwa ekonomi maritim—baik internasional maupun domestik, termasuk kontainerisasi—menunjukkan daya tahan yang tinggi. Hal ini membuktikan bahwa mesin konsumsi dalam negeri dan aktivitas manufaktur nasional tetap bergerak positif.

Antrean kendaraan yang didominasi truk kontainer di Jalan Yos Sudarso, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat, 18 April 2025. Kemacetan panjang menuju Pelabuhan Tanjung Priok yang berlangsung sejak Kamis, 17 April 2025, terurai sekitar pukul 12.00 WIB. Meski lalu lintas berangsur normal, masih terjadi antrean truk kontainer di ruas jalan mendekati pelabuhan. Menurut Pelindo, situasi ini terjadi karena adanya peningkatan arus barang peti kemas yang akan melakukan kegiatan penerimaan dan pengiriman peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok.

Menurut Saut, pertumbuhan throughput hingga 6,4 juta TEUs ini ditopang oleh dua faktor utama. Pertama, faktor domestik, yaitu kuatnya konsumsi rumah tangga dan aktivitas manufaktur di daerah penyangga sejumlah terminal peti kemas Pelindo yang mendorong arus barang antarpulau. Kedua, faktor internal Pelindo, yakni keberhasilan standardisasi pascamerger di bawah koordinasi Subholding Pelindo Terminal Petikemas (SPTP).

Peningkatan efisiensi di terminal regional dinilai membuat port stay lebih pendek. Kapal yang cepat berangkat bisa segera kembali membawa muatan baru. ”Jadi, angka 7 persen ini adalah konfirmasi nyata bahwa aktivitas perdagangan kita tidak mengalami stagnasi, melainkan menunjukkan daya tahan yang solid di tengah tekanan global, khususnya untuk perdagangan lewat laut berbasis kontainer,” ucapnya.

Saut menambahkan, kontribusi terminal kontainer di bawah korporasi Pelindo terhadap pertumbuhan ekonomi nasional cukup dominan. ”Perkiraan saya, dari 15 juta peti kemas yang terlibat dalam perdagangan laut nasional—baik domestik maupun internasional—sekitar 13 juta peti kemas atau mencapai 86 persen ditangani oleh Pelindo. Oleh karena itu, korelasinya sangat kuat dengan pertumbuhan ekonomi nasional, terutama lewat laut berbasis kontainer,” paparnya.

​Dari aspek logistik, peran ekosistem terminal peti kemas di bawah Pelindo juga sangat signifikan dalam memitigasi risiko inflasi. Terminal atau pelabuhan bertindak sebagai agregator sekaligus fasilitator pertumbuhan ekonomi. Ketika kinerja pelabuhan membaik, kepastian jadwal kapal (vessel reliability) meningkat. Hal ini memberikan kepastian pasokan bahan baku bagi industri manufaktur dan mempercepat distribusi komoditas strategis.

Anjungan kapal MV Novah yang bersandar di dermaga PT Chandra Pelabuhan Nusantara (CPN), Cilegon, Banten, Selasa (12/5/2026). PT Chandra Daya Investasi, melalui anak usaha PT Chandra Shipping International (CSI), menyambut sandar perdana kapal tersebut. Momentum ini menjadi langkah strategis perseroan dalam memperkuat konektivitas ekosistem infrastruktur terintegrasi melalui sinergi layanan kepelabuhanan dan logistik maritim guna mendukung kelancaran rantai pasok industri nasional dan regional.

Digitalisasi pelabuhan

Langkah transformasi yang dilakukan Pelindo dinilai telah memberikan dampak yang konkret dan terukur. Melalui penataan berbasis sistem digital di kluster peti kemas, terjadi lompatan produktivitas yang masif. Berbagai platform yang telah beroperasi turut memberikan dukungan, antara lain Terminal Operating System (TOS) Nusantara, OPUS/Navis N4, Phinnisi (platform terintegrasi untuk pelayanan kapal), PTOS-M (Pelindo Terminal Operation System-Multipurpose) yang banyak diterapkan pada terminal kontainer, serta aplikasi SIGAP.

Digitalisasi ini telah memperkuat produktivitas terminal peti kemas nasional. Produktivitas bongkar muat yang diukur dari berth crane hour (BCH) di berbagai terminal utama, misalnya, meningkat dari rata-rata belasan boks per jam menjadi 25-30 boks per jam. Peningkatan ini terjadi berkat integrasi perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan operasi kapal. Selain itu, proses keluar masuk kontainer di terminal peti kemas juga menjadi lebih cepat dan efisien.

Dampak langsung lainnya adalah port stay terpangkas drastis dari 2-3 hari menjadi kurang dari 24 jam di beberapa terminal. Bagi maskapai pelayaran, efisiensi waktu ini berarti penghematan biaya operasional yang signifikan. Sementara bagi pelabuhan, hal ini meningkatkan kapasitas dermaga tanpa harus membangun fisik dermaga baru.

Meskipun geopolitik global penuh ketidakpastian, prospek bisnis kepelabuhanan Indonesia dinilai tetap cerah. Hal ini didukung oleh kekuatan pasar domestik yang besar serta pergeseran titik gravitasi pasar maritim global dan rantai pasok laut ke kawasan Asia, termasuk Asia Tenggara. Kondisi tersebut turut berdampak positif pada pertumbuhan jasa industri kepelabuhanan nasional. Namun, persaingan untuk menampilkan kinerja terbaik serta efisiensi proses bisnis yang andal menjadi tuntutan yang tak terelakkan.

Menurut Saut, untuk menjadi operator pelabuhan berkelas dunia, strategi Pelindo ke depan perlu difokuskan pada tiga pilar utama. Pilar pertama adalah konektivitas ekosistem (end-to-end logistics). Terminal kontainer atau pelabuhan di bawah Pelindo perlu meningkatkan integrasi koneksi. Selain itu, pergerakan barang di wilayah hinterland harus lebih efisien dan andal. Pelabuhan tidak hanya dituntut efisien di area internal (inside port gate), tetapi juga mampu mengintegrasikan layanan dengan kawasan industri di hinterland melalui ekosistem logistik nasional (national logistics ecosystem/NLE).

Kapal-kapal kargo melakukan bongkar muat muatan di Pelabuhan Belawan, Medan, Sumatera Utara, Selasa (20/1/2026). Pelabuhan Belawan merupakan pelabuhan utama untuk mengirim komoditas unggul dari Sumatera seperti minyak sawit mentah, karet, kopi, dan pinang.

Pilar kedua adalah aliansi strategis global. Pelindo harus berorientasi memperkuat daya tarik pelabuhan nasional agar menjadi pilihan persinggahan langsung bagi kapal-kapal peti kemas besar (mother vessel). Kolaborasi untuk merealisasikan pelabuhan konsolidasi nasional perlu dilakukan, termasuk beraliansi dengan operator terminal atau pelayaran global demi kepentingan kargo nasional. Langkah ini secara tidak langsung akan mengurangi ketergantungan pada pelabuhan transshipment di negara tetangga.

Pilar ketiga, secara bertahap menerapkan konsep pelabuhan hijau dan cerdas (green and smart port) guna beradaptasi dengan perkembangan logistik 5.0 global. Hal ini dapat dilakukan dengan mengakselerasi dekarbonisasi pelabuhan melalui elektrifikasi alat bongkar muat, manajemen energi yang sejalan dengan target Organisasi Maritim Internasional (IMO), serta pengelolaan sampah dan limbah kapal berprinsip ekonomi sirkular. Langkah ini penting untuk memenuhi standar global masa depan yang menuntut operasional ramah lingkungan sekaligus berpotensi menjadikan pelabuhan sebagai sumber energi baru bagi kawasan sekitarnya.

Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho menambahkan, kinerja Pelindo bisa menjadi barometer kondisi logistik nasional. Saat ini, tren kinerja logistik nasional memang cenderung positif.

Namun, kenaikan arus peti kemas yang diraih Pelindo dinilai belum bisa menjadi indikator menguatnya daya saing perdagangan. Hal ini mengingat pertumbuhan arus peti kemas masih dipengaruhi oleh tingginya angka impor, pengembalian peti kemas kosong, serta faktor musiman seperti mobilitas tinggi selama Ramadhan dan Idul Fitri.

Kesibukan aktivitas bongkar muat kontainer di Terminal Peti Kemas, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu, 16 Juli 2025. AS dan Indonesia menyepakati penerapan besaran tarif impor 19 persen untuk produk Indonesia yang masuk ke AS. Besaran tarif ini lebih rendah dari rencana sebelumnya sebesar 32 persen. Sementara itu, produk AS yang masuk ke Indonesia tidak akan dikenai tarif apa pun.

Ke depan, Indonesia diharapkan bisa menjadi pusat transshipment di kawasan Asia Tenggara. Saat ini, sebagian besar arus barang Indonesia masih harus transit melalui pelabuhan negara tetangga seperti Singapura dan Port Klang, Malaysia. Akibatnya, nilai tambah dari aktivitas logistik, seperti pengisian bahan bakar kapal, pergudangan, dan jasa logistik lainnya, lebih banyak dinikmati oleh negara lain.

Sebagai perbandingan, Pelabuhan Singapura menangani sekitar 37 juta TEUs per tahun dan Port Klang di Malaysia menangani 14 juta-15 juta TEUs. Sementara itu, Pelabuhan Tanjung Priok hanya menangani sekitar 7 juta-8 juta TEUs. ”Jadi, Indonesia ini masih berperan sebagai apa yang saya sebut sebagai pass-through economy. Kita belum sepenuhnya menangkap nilai tambah dari arus perdagangan yang melewati negara ini,” papar Andry.

Menurut Andry, Pelindo juga perlu memperbaiki waktu inap barang (dwelling time) hingga mendekati standar global, yakni di bawah satu hari. Selain itu, diperlukan perbaikan konektivitas di luar kawasan pelabuhan mengingat sekitar separuh biaya logistik domestik berasal dari transportasi darat. Dari sisi lingkungan, agenda dekarbonisasi transportasi logistik juga perlu terus didorong.