Kemacetan Horor di Pelabuhan Ketapang, Kendaraan Mengular hingga 20 Km

Sejumlah truk terjebak kemacetan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Miggu (6/9/2026). (Beritasatu.com/Rizky Hidayat)

Banyuwangi, Beritasatu.com – Antrean panjang kendaraan menuju Pelabuhan ASDP Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur kembali terjadi pada Minggu (6/9/2026). Kemacetan parah terpantau mengular hingga wilayah Kecamatan Wongsorejo atau mencapai sekitar 20 kilometer dari kawasan Pelabuhan Ketapang.

Berbeda dengan kondisi pada hari-hari sebelumnya, antrean kali ini tidak hanya didominasi kendaraan logistik seperti truk. Sejumlah kendaraan roda dua juga terlihat ikut terjebak dalam kemacetan.

Kepadatan kendaraan membuat arus lalu lintas menuju pelabuhan tersendat. Para pengguna jalan harus menunggu cukup lama sebelum dapat melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Ketapang yang menjadi salah satu jalur utama penyeberangan Jawa-Bali.

Seorang sopir truk, Rizal mengaku telah mengantre sejak Sabtu (5/9/2026) pagi. Hingga Minggu pagi, ia masih berada di kawasan kantong parkir dan belum dapat melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan.

Menurut Rizal, kondisi kemacetan yang terjadi kali ini sangat parah. Ia mempertanyakan alasan kepadatan kendaraan yang selama ini disebut berkaitan dengan pekerjaan perbaikan dermaga.

“Inikan katanya alasannya ada perbaikan dermaga, tetapi waktu dermaganya utuh kok tetap macet, ini dermaganya kurang tambah macet,” kata Rizal.

Rizal mengatakan kondisi tersebut membuat para sopir truk merasa kelelahan. Menurutnya, berbagai persoalan mengenai antrean kendaraan dan pelayanan penyeberangan sudah berulang kali disampaikan oleh para sopir.

Ia berharap ASDP segera mengevaluasi kondisi tersebut dan mencari solusi agar antrean kendaraan tidak terus terjadi.

“Sudahlah biar pihak ASDP yang berpikir, kan sudah banyak tanggapan sopir seperti apa, yang diminta seperti apa,” ujarnya.

Rizal hanya berharap kemacetan parah menuju Pelabuhan Ketapang segera berakhir. Menurutnya, antrean panjang yang berlangsung berjam-jam tidak hanya menguras tenaga para sopir, tetapi juga menghambat aktivitas masyarakat yang menggunakan jalur tersebut.