Macet Horor Jawa-Bali, Gapasdap Desak Revitalisasi Pelabuhan Masuk PSN

Banyuwangi – Kemacetan panjang dan melelahkan di lintas penyeberangan Jawa-Bali masih menjadi momok bagi para pengguna jalan. Menanggapi situasi pelik ini, Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) mendesak pemerintah pusat emasukkan proyek revitalisasi Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk jadi Proyek Strategis Nasional (PSN).

Ketua DPP Gapasdap Khoiri Soetomo menegaskan, kemacetan di lintasan Jawa Timur menuju Bali, NTB, hingga NTT ini sudah masuk dalam kategori extraordinary heavy traffic jam. Ia pun mempertanyakan komitmen pemerintah yang dinilai menganakemaskan infrastruktur jalan ketimbang pelabuhan.

“Pembangunan Jalan Tol Trans-Jawa bisa masuk PSN, kenapa pelabuhan ini tidak? Karena jika jalan tol Trans-Jawa misal nanti sudah sampai Besuki saja, ini sudah ada antrean kendaraan golongan 4 yang sangat panjang,” ujar Khoiri kepada awak media, Senin (13/7/2026).

Kurang Dermaga, Bukan Kapal

Khoiri membeberkan fakta bahwa kemacetan parah yang terjadi selama ini bukan disebabkan oleh minimnya armada kapal. Sebaliknya, saat ini terjadi kelebihan (surplus) kapasitas kapal hingga mencapai 50 persen. Dari sekitar 56 kapal yang ada di lintasan Ketapang-Gilimanuk, setiap harinya hanya ada sekitar 28 hingga 30 kapal saja yang dioperasikan.

“Kenapa ini menjadi masalah? Karena bukan hanya truknya Pak Tarigan dan busnya Organda saja yang menunggu antrean untuk giliran masuk, tapi kapal-kapal kami juga menunggu antrean untuk beroperasi bergiliran. Jadi, masalah utamanya jelas ada pada infrastruktur, dan itu adalah kewenangan pemerintah untuk mencukupinya,” tegas Khoiri.

Sebagai solusi jangka panjang, Gapasdap mengusulkan pembuatan masterplan penyeberangan yang visioner. Dengan total 56 kapal yang beroperasi saat ini, idealnya Pelabuhan Ketapang memiliki minimal 14 pasang dermaga.

“Setidaknya setiap tahun itu tumbuh dua, tumbuh dua, tumbuh dua dermaga baru,” tambah Khoiri.

Keluhan pengusaha kapal ini direspons positif pihak operator. General Manager PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ketapang-Gilimanuk, Arief Eko Kurniansjah, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan rencana strategis peningkatan kapasitas dermaga pada tahun 2026 ini, fokus dari yang semula berkapasitas 30 ton ditingkatkan menjadi 50 ton.

“ASDP sudah menyampaikan akan segera membangun di tahun ini. Mudah-mudahan dalam waktu 1 sampai 2 tahun ini akan ada 3 pasang peningkatan kapasitas dermaga,” ungkap Arief Eko beberapa waktu lalu kepada detikJatim

Meski begitu, Gapasdap menilai langkah tersebut belum sepenuhnya cukup jika tidak dibarengi dengan perbaikan fasilitas penunjang keselamatan kerja kapal, mengingat kondisi alam di Selat Bali sangat unik dan ekstrem.

“Di sini ada palung sempit. Di selatan ada Samudra Indonesia, di utara ada Laut Jawa. Ketika terjadi pasang surut, ada peralihan arus yang sangat besar dan itu menimbulkan gelombang serta pusaran arus,” jelas Khoiri.

“Sebagus apa pun kapal kami, kami lengkapi dengan dua mesin memadai, kalau tidak ada kolam pelabuhannya, begitu ada ombak pantai yang tinggi maka akan terjadi gangguan operasional,” cetusnya.

Langkah revitalisasi ini mendapat dukungan penuh dari parlemen. Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS) menyatakan, fokus perhatian kini bergeser ke sisi Bali demi mengurai penyumbatan arus kendaraan (bottleneck).

“Maka akan dicari tempat atau lokasi baru untuk dibangun tambahan dermaga di Gilimanuk. Rencananya akan ada penambahan satu dermaga di sana, yang nantinya akan dipasangkan dengan dermaga MB4 ataupun dermaga yang ada di Bulusan,” pungkas Bambang Haryo.