Pelaku Usaha Logistik Jateng Mulai Lirik Truk Pabrikan Cina

Truk-truk buatan China yang dipamerkan dalam acara Aptrindo Expo, bertepatan dengan Musyawarah Daerah DPD Aptrindo Jawa Tengah-DI Yogyakarta pada Kamis (15/10/2026) di Kota Semarang./Bisnis-Muhammad Faisal Nur Ikhsan.

Bisnis.com, SEMARANG — Pelaku usaha angkutan logistik di Jawa Tengah mulai melirik kendaraan niaga pabrikan Cina sebagai alternatif peremajaan armada. Langkah ini diambil untuk merespons rencana penerapan kebijakan Zero Over Dimension Over Loading (ODOL) oleh pemerintah pada tahun depan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Gemilang Tarigan menegaskan bahwa aturan Zero ODOL memaksa pengusaha meningkatkan frekuensi pengangkutan demi mempertahankan volume angkutan. “Tahun depan, pemerintah sudah menerapkan Zero ODOL, mau tidak mau pengusaha harus meremajakan armadanya sembari mempertahankan volume angkutan.

Ketika pengusaha truk ini disuruh meningkatkan standarnya, boleh dikatakan ini adalah pengembangan pasar. Yang tadinya bisa diangkut 10 kali, besok harus bisa diangkut 15–20 kali. Ini demand yang harus kita sikapi, [truk Cina] menjadi alternatif betul,” jelasnya saat ditemui wartawan pada Kamis (15/10/2026).

Gemilang menjelaskan bahwa armada logistik nasional saat ini didominasi unit tua yang tidak efisien. Secara umum, Aptrindo memperkirakan 60% truk angkutan logistik di Indonesia sudah berusia lebih dari 20 tahun. Bahkan, kata Gemilang, ada truk yang usianya sudah mencapai 40 tahun. Usia armada yang terlalu tua tidak hanya berdampak pada efisiensi pengiriman, tetapi juga pada keamanan dan kenyamanan sopir.

“Kalau sudah terlalu tua, tentu tidak nyaman, truknya lambat, sehingga perlu diremajakan. Kami sebetulnya ingin menggunakan truk listrik, tetapi harganya tiga kali lipat dibandingkan truk konvensional (internal combustion engine/ICE). Maka kami mencari alternatif yang lebih murah, kira-kira begitu,” kata Gemilang. Truk buatan pabrikan Cina mulai menjadi alternatif. Selain menawarkan harga yang lebih kompetitif, kendaraan tersebut dinilai memiliki tenaga dan teknologi yang cukup relevan dengan medan jalan di Indonesia, termasuk di Jawa Tengah.

Gemilang menyebut pelaku usaha mulai melirik truk asal Negeri Tirai Bambu itu lantaran tidak adanya insentif dari pemerintah.

“Di industri manufaktur, kalau saya mengadakan mesin dari luar negeri, itu bea masuknya nol. Bahkan, pengusaha bisa mendapat tax holiday. Tetapi dalam usaha truk ini, sama sekali tidak ada. Sekarang kita lihat, sepeda motor listrik saja disubsidi sama pemerintah, Rp7 juta per unit. Kami tidak pernah merasakan itu, dilepas ke harga pasar. Bagaimana kita bisa mengganti truk ke listrik? Masih jauh,” ujarnya.

Pelaku usaha angkutan logistik di Jawa Tengah telah menyaksikan sendiri keandalan truk buatan Cina. Bertepatan dengan rangkaian acara Musyawarah Daerah (Musda) Aptrindo Jawa Tengah–DI Yogyakarta, digelar pula uji jalan (test drive) truk asal Cina ke wilayah Pemalang–Wonosobo.

“Kemarin [truk merek] Dongfeng diuji di jalur tengah, jalur pantura. Kami mau melihat konsumsi BBM-nya di pegunungan, untuk naik turun, berkelok-kelok, itu bagaimana,” terang Ketua DPD Aptrindo Jawa Tengah–DI Yogyakarta Bambang Widjanarko.

Nando, Sales Representative Lancar Jaya Motor Indonesia selaku Agen Pemegang Merek (APM) Dongfeng di Indonesia, menjelaskan bahwa uji jalan tersebut membuktikan keandalan truk buatan Cina untuk medan Jawa Tengah.

“Kalau untuk kemarin, test drive di Wonosobo, untuk driver-driver sih, pada bilangnya sih, Dongfeng oke, aman. Untuk tanjakan juga oke, semuanya juga pada driver yang masih baru pun juga puas lah dengan kekuatan Dongfeng sendiri,” imbuh Nando.

Lancar Jaya Motor Indonesia telah memasarkan kendaraan angkutan logistik tersebut di beberapa kota besar di Pulau Jawa, termasuk Jabodetabek, Surabaya, dan Semarang.

“Dari [pengisian] SPK, setelah itu akan masuk proses leasing, pasti kita tunggu keputusan dari leasing dulu ya. Untuk proses leasing-nya, berarti setelah PO, itu kita 45 hari kerja. Insyaallah unit sudah bisa siap,” jelas Nando.